-
“ILMU PENGETAHUAN ADALAH KUNCI MENEMUKAN DIRI SENDIRI”
BY ANDRE ADISAPUTRA.
nama saya andre adisaputra, lahir di jakarta ,7, juni ,2001 saat ini saya sedang menanti
jadwal sidang skripsi untuk mengukuhkan selar sarjana hukum saya. kisah yang saya tulis
merupakan bagian dari sejarh hidup saya . semua dimulai pada tahun 2007.
oada suatu sore di tahun 2007, saya datang ke salah satu rumah sakit di daerah jakarta
timur untuk melakukan konsultasi di poli anak , hasil pemeriksaan menunjukan kondisi saya
baik-baik saja dan tidak ada masalah apapun. memang setiap bulan ada jadwal konsultasi dokter
untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan saya.
setelah konsultasi bersamaan dengan senja yang sudah terlihat lelah, saya pun kembali
ke rumah untuk beristirahat seperti biasanya. namun sadar- sadar saya sudah di IGD , saya tidak
tahu apa yang terjadi pada malam itu .tapi yang jelas di IGD saya merasa sangat lemas padahal
tadi sore tidak ada masalah apapun .
dan karena dokter spesialis tidak bisa hadir malam itu , maka ia melakukan visit pada
pagi harinya dan ia menggambil sebuah keputusan bahwa saya tidak bisa di opname , saya harus
di rawat secara intensif di ICU .
setelah proses pemeriksaan , kemudian saya dipindahkan ke ruang ICU khusus anak ,
saya masih ingat posisi tempat tidur saja di paling pojok dan dekat dengan jendela, saya melihat
banyak keluarga saya datang dan mencoba menggalihkan perhatian saya agar melihat ke arah
jendela , namun saya sudah tidak kuasa untuk mempertahankan kesadaran dan tiba-tiba
semuanya gelap.
sadar-sadar saya sudah keluar dari ruang ICU, namun masih perlu melakukan perawatan
inap dalam jangka waktu yang belum bsa dipastikan . cukup lama saya di ICU dan usut punya
usut saya menggalami koma beberapa hari tapi yang lebih parah lagi adalah saya tidak bisa
berjalan , kaki saya tidak bisa digerakan seperti biasanya sangat-sangat lemas berat badan saya
turun drastis. setiap kali saya bertanya-tanya apa yang terjadi ke semua orang yang ada di
ruangan itu termasuk kepada dokter dan suster mereka enggan menggatakan yang sebenarnya ,
ekspresi mereka seakan-akan menyembunyikan suatu fakta buruk yang tidak boleh saya ketahui.
saya bertanya-tanya dalam diri saya ”apakah ini adalah mimpi?” kalau memang ini
adalah mimpi bangunkanlah karena saya ingin bermain dan berlari, namun kenyataan pahit tidak
bisa terhindarkan , saya menggalami kelumpuhan dan tidak bisa berjalan ntuk waktu yang tidak
bisa di prediksi , jujur saya kira setelah sadar saya langsung bisa beraktivitas lagi tapi faktanya
saya harus beristirahat lebih lama di rumah sakit yang semakin hari semakin membosankan